PROFIL MUSLIM DI ERA GLOBALISASI
2.1. Pengertian Pribadi Muslim di Era Globalisasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru pribadi diartikan “manusia sebagai perseorangan, diri manusia atau diri orang sendiri”.
Sedangkan kata muslim artinya orang yang telah berpasrah diri, dalam hal ini berpasrah kepada Tuhan, tetapi dalam rangking manusia berkualitas, seorang yang baru pada tingkat muslim berada pada tingkatan terendah. Karakteristik seorang muslim adalah seorang yang telah meyakini supremasi kebenaran itu, tetapi dalam praktek ia belum tangguh karena ia masih suka melakukan hal-hal yang kecil. Sedangkan orang yang sudah mencapai kualitas mukmin adalah seorang muslim yang sudah istiqomah atau konsisten dalam berpegangan kepada nilai-nilai kebenaran, sampai kepada hal-hal yang kecil.
Dalam hadits Nabi disebutkan bahwa iman itu mempunyai tujuh puluh cabang, artinya indicator seorang mukmin itu ada tujuh puluh variable.
Kemudian globalisasi adalah sebuah era modern di mana dunia ini terasa seperti sebuah kampung kecil. Interaksi antar Negara, peradaban dan budaya semakin mudah dilakukan. Proses saling mempengaruhi antar satu budaya dengan budaya yang lain semakin intens dan dengan proses yang cepat, baik budaya itu bersifat positif atau negative. Sehingga pada akhirnya globalisasi menjadi alat untuk saling mempengaruhi antar peradaban, budaya, ideologi, bahkan agama.
Jadi dapat diartikan bahwa pribadi muslim berarti manusia yang berkualitas yang telah berpasrah diri kepada Allah Swt dan tidak terpengaruh oleh era modern, berpegang teguh kepada keimanannya dan tidak tergoyahkan.
2.2. Tantangan dan Peluang di Era Globalisasi
Globalisasi sebagai suatu proses pertukaran nilai budaya yang mendunia telah mempengaruhi kehidupan umat manusia tanpa mengenal batas-batas demografi suatu Negara. Proses yang terjadi bersamaan dengan dahsyatnya perkembangan informasi dan transpormasi peradaban lewat modernisasi ternyata juga melahirkan ketidak puasan masyarakat modern.
Di samping mendatangnya hal-hal positif, globalisasi sepertinya membutuhkan kecenderungan baru terhadap masyarakat terhadap sesuatu yang bersifat kebendaan (materialisme), mementingkan diri sendiri, (individualisme), kenikmatan badaniah (hedonisme), serta hasrat untuk menguasai yang lain dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karenanya, sering terjadi pelanggaran terhadap unsure-unsur normatif yang telah menjadi anutan nilai masyarakat.
Seorang muslim haruslah dapat menguasai diri dan menahan hawa nafsu terhadap hal-hal tersebut. Muslim yang baik dan berpegang teguh kepada keimanannya berpandangan kritis dalam menghadapinya. Walaupun perkembangan di era globalisasi sedemikian pesatnya, satu sikap seorang muslim haruslah kuat dan terbuka, yang bangga dengan identitas dirinya yang sadar akan misinya yang berpegang teguh dengan orientasi ajaran agamanya, yang yakin akan ke universalannya dan yakin akan peradaban umatnya.
Sebagai contoh ketika terjadi pelecehan yang dilakukan seorang kartunis barat terhadap Nabi besar Muhammad Saw merupakan salah satu contoh dimana penghormatan terhadap peradaban ternyata masih sangat lemah. Dan pelecehan tersebut telah mengundang kemarahan umat islam di seluruh dunia dan ini tentu saja sebagai akibat terbukanya kran kebebasan pers yang amat lebar sehingga menjadi tidak terkendali. Padahal dalam konteks ini, kebebasan berekspresi seharusnya di ikuti dengan sikap penghormatan terhadap nilai dan ajaran agama komunitas lain sehingga tercipta toleransi yang tinggi pada tataran global.
Pemutaran gambaran baginda Besar Nabi Muhammad Saw oleh media masa barat sesungguhnya merupakan issu teroris gaya baru dan merupakan tantangan umat Islam (muslim) di era globalisasi. Gambaran tersebut telah menodai rasa kecintaan dan keyakinan umat Islam di seluruh dunia. Dengan sikap kecintaan tersebut, umat Islam justru akan rela mengorbankan jiwa dan seluruh kepentingan hidupnya oleh sebab itu, kasus penerbitan penghinaan Nabi Besar Muhammad Saw ini tidak bisa dibenarkan dan jangan dibiarkan, meskipun dibawah naungan kebebasan berekspresi.
Bila sang kartunis barat itu memperhatikan paradigma sosialnya dalam menciptakan perdamaian dunia, maka perdamaian akan dapat terwujud bila ada saling penghormatan terhadap yang lain. Pemaknaan terhadap takwa, disamping secara individual berarti melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala yang dilarang-Nya, prinsip ini juga memberikan dorongan psikologis yang kuat untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi antar umat Islam dengan umat yang lain secara damai dan toleransi.
Sebagai agama rahmatan lil alamin, islam sebenarnya hadir dengan cara amat yang simpatik, ramah, santun, serta tidak menyebarkan fitnah yang dapat mengakibatkan kerusuhan dan membakar amarah. Dalam penyebarannya, Islam tidak membenarkan adanya paksaan. Sebab, paksaan terhadap suatu agama hanya akan menimbulkan problem baru yang lebih berbahaya. Karena itu, dalam proses dakwah misalnya, Islam melakukan penyebaran ajarannya dengan melalui tiga fase yang sempurna.
Fase pertama, bersifat mendidik dan memperbaiki individual dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Islam memandang nilai-nilai kodrati hak azasi manusia secara universal harus dihormati dan berlaku sama bagi semua bangsa dan negara.
Fase kedua, menegakan keadilan di tengah-tengah masyarakat dalam segala aspek kehidupan umat, dalam negara, antar Negara-negara dan bangsa, hukum, pilitik, dan ekonomi. Demikian juga dengan keadilan dalam penyebaran informasi dan hak azasi, serta dalam menegakan keadilan sosial.
Fase ketiga, merealisasikan masalah atau kemanfaatan bagi umat dan menolak dengan filter “Rahmatan lil alamin” segala sesuatu yang menimbulkan bencana atau kerusakan. Karena itu juga Islam menghormati kebinekaan budaya berbagai bangsa dan suku bangsa di dunia dalam kolidor Sunatullah.
Karena itu era globalisasi, semua muslim harus mampu menunjukan bahwa mereka telah modern dan dapat menjadi rahmat serta membawa kebaikan bagi umat lainnya. Institusi pendidikan islam atau pesantren sudah sewajarnya mengembangkan kelembagaan serta sistem organisasi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Di samping itu menghadapi globalisasi, umat Islam secara normatif juga harus mampu menjaga diri dan memeranmgi hawa nafsu yang tidak terkendaliakan merusak tatanan sosial kemasyarakatan. Cita-cita untuk menjadi masyarakat madani hanya akan dapat apabila umat Islam dapat merealisasikan ajaran Iislam secara kaffah dalam kehidupan mereka sehari-hari.
2.3. Profil Pribadi Muslim Di Era Globalisasi
Kehidupan mengenal tiga golongan manusia, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Baqoroh ayat 2-8 memberikan benang merah tentang adanya tiga golongan berikut :
1. Orang yang beriman 100% atau kita sebut “Muslim Sejati”.
2. Orang kafir, yang tidak beriman sama sekali.
3. Orang yang pura-pura beriman (Munafik).
Muslim sejati menduduki peringkat tertinggi dan paling terhormat di antara manusia. Sebaliknya golongan kedua dan ketiga sangat hina dan celaka. Yang menjadi pertanyaan : Dimanakah posisi kita ? termasuk dalam golongan apa anak-anak, istri, suami dan keluarga kita? Indikasi golongan kedua dan ketiga bisa bermacam-macam, mulai dari keengganan mendirikan shalat sampai penolakan terhadap hukum Allah.
2.3.1. Keimanan Kaum Muslim
Langkah pertama untuk menjadi muslim sejati adalah membenahi iman. Pelajaran dan imani Allah, para Malaikat, Kitab-kitabnya, Rasul-rasulnya, Hari akhir dan Qadha serta Qadarnya dengan benar. Seorang muslim adalah orang-orang yang cinta sekali kepada Allah Swt dan beriman kepada semua Nabi, mereka senantiasa bersama allah dan tak pernah bercerai-cerai pada-Nya. Iman mereka mantap, tujuan hidupnya menegakan tauhid, dengan senantiasa mengabdikan dan beribadah kepada Allah. (Surat ke Tiga ayat 31).
2.3.2. Sifat dan Sikap Kaum Muslim
a) Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji bantu-membantu dalam kebajikan dan bukan kejahatan.
b) Bersikap adil walaupun harus merugikan diri-sendiri atau golongannya (Surat An-Nisa ayat 135).
c) Saling menghormati dengan sesama muslim (Surat Al-Hujurat ayat 11-12).
d) Bersikap jujur walaupun lawan.
e) Bersatu.
f) Mendapat rizki yangt baik, dan hidup secara wajar.
g) Serta hebat sekali keberaniannya dan pantang mundur menghadapi lawan.
h) Mendapat kemenangan sekalipun menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak.
i) Terhadap orang kafir sikapnya keras dan tegas, sebaliknya dengan sesama muslim kasih-mengkasihi.
2.3.3. Sabar dan Teguh Menghadapi Cobaan
Di lain pihak mereka tidak bebas dari cobaan dan aniaya, mereka akan mengalami cobaan-cobaan Tuhan berupa malapetaka dan kesengsaraan serta diguncang dengan bermacam-macam cobaan sebagai penguji iman mereka. Berupa sedikit ketakutan atau kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan pangan. Orang-orang muslim mungkin pula mengalami pengusiran dan penganiayaan atau bahkan gugur dijalan Allah, tetapi mereka tetap teguh hati dan tawakkal kepada-Nya karena mereka mendapat kebahagiaan dari Tuhan sebagai ganjaran atas kesabaran mereka.
Gambaran di atas merupakan sebagian dari citra mengenai kaum muslimin menurut Al-Qur’an yang menunjukan betapa luhur dan mantapnya pribadi muslim yang diunggulkan dan dimuliakan di antara sesama manusia.
2.3.4. Tanggung JawabSeorang Muslim
Muslim yang dibutuhkan dan diridhai Allah adalah mereka yang hati dan mulutnya bergetar ketika mengucapkan kalimat syahadat “ Asyadu alla ilaha illallah wa asyadu anna Muhammadan Rosulullah” yang berfikir keras bagaimana caranya menyelamatkan agama Allah, dan bersungguh-sungguh melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
Seorang muslim sejati menyadari tanggung jawab-nya terhadap agama dan pengamalannya. Ia tidak akan berpangku tangan menyaksikan kehancuran dan kebobrokan dalam masyarakat. Kosongnya masjid dari jama’ah shalat fardhu tidak luput dari perhatiannya. Ia tidak rela dengan merebaknya pornografi dan pornoaksi sehingga dia melakukan sesuatu (sesuai dengan kemauan) untuk membendungnya. Demikian seterusnya, dia tidak nyaman sebelum Islam menjadi agama yang di amalkan.